0

Kekerasan Bukan Solusi

LAGI-lagi terjadi. Kekerasan pecah di bumi Indonesia. Kali ini bukan mengenai mafia pajak yang beberapa waktu sebelumnya menjadi hal yang paling banyak diperbincangkan di berbagai kalangan, bukan pula gosip selebriti berupa kawin cerai, putus nyambung, melainkan hal yang sebenarnya sering kita saksikan.

Ya, sebuah contoh tindak kekerasan oleh aparatur negara 14 April lalu di Tanjung Priok. Apa yang dalam pikiran kita ketika mendengar mengenai aparatur negara? Jawabannya pasti akan bervariasi,tergantung dari apa yang kita pernah alami masing.Lantas,apa yang ada dalam pikiran kita jika ternyata banyak tindak kekerasan yang dilakukan oleh aparatur negara yang notabene merupakan institusi penegak hukum dan pengayom masyarakat? Kita pun pasti akan sangat kecewa.

Betapa tidak, jaminan negara untuk melindungi rakyat belum dapat dirasakan oleh masyarakat Indonesia pada umumnya.Peristiwa tindak kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) pun terus meningkat. Di mana keadilan itu berada? Ketika rakyatnya bersuara,menyatakan ketidaksetujuannya terhadap peraturan yang ada, mengapa harus direspons dengan tindakan kekerasan? Tidak adakah cara lain? Apakah ini sudah menjadi jati diri bangsa?

Lantas, akankah akan terus dibiarkan tidak kekerasan tersebut dilakukan, tanpa ada langkah lanjutan dalam mengatasinya? Di mana rasa kemanusiaan itu? Sebuah tekad untuk melakukan perbaikan dan perubahan menjadi institusi penegak hukum yang profesional guna memperbaiki citra buruk di mata masyarakat merupakan langkah yang patut dihargai. Namun, sekedar tekad saja tanpa bukti yang nyata merupakan hal yang sia-sia. Janganlah heran jika kelak di kemudian hari keberadaan aparatur negara terus-menerus dipersoalkan dan digugat.

Terulangnya tindak kekerasan yang dilakukan oleh aparat dalam melakukan penegakan hukum menunjukkan kurang profesionalnya aparat penegak hukum serta tidak adanya penghormatan, penghargaan dan penegakan serta pemenuhan terhadap HAM.Tindak kekerasan dan pertikaian massa yang semakin tahun semakin meningkat, menunjukkan bahwa lambannya pemerintah dalam merespons dan menyikapi hal tersebut.

Sebagai seorang warga negara Indonesia, yang cinta akan kedamaian dan kesatuan bangsa, saya hanya bisa memberi saran untuk masalah ini. Seharusnya pihak aparat keamanan harus mulai mengubah cara dan perilaku ketika di lapangan. Bagaimanapun juga harus mengedepankan cara-cara yang diplomatis dan persuasif. Dalam bentuk penanganan kasus, aparat harus menerapkan standar-standar HAM yang sudah diatur oleh negara.

Kinerja intelijen pun harus profesional dalam membaca realitas dan potensi konflik yang akan terjadi di masyarakat sehingga dapat mencegah dan meminimalisasi potensi konflik tersebut.Yakinlah tidak ada jalan yang terlalu jauh untuk ditempuh ketika kita yakin Allah sangat dekat. Mari bersama wujudkan Indonesia yang damai, aman, dan tenteram.
 (*)

Putri Nurhardiyanti
Mahasiswi Sekolah Tinggi
Ilmu Statistik (STIS) Jakarta

Sumber : Okezone.com
Read more
0
IBU DAN LONCENG KEMATIAN SANG ANAK


Alkisah di sebuah desa, ada seorang ibu yang sudah tua, hidup berdua dengan anak satu-satunya. Suaminya sudah lama meninggal karena sakit
Sang ibu sering kali merasa sedih memikirkan anak satu-satunya.
Anaknya mempunyai tabiat yang sangat buruk yaitu suka mencuri, berjudi, mengadu ayam dan banyak lagi.

Ibu itu sering menangis meratapi nasibnya yang malang, Namun ia sering berdoa memohon kepada Tuhan: “Tuhan tolong sadarkan anakku yang kusayangi, supaya tidak berbuat dosa lagi.
Aku sudah tua dan ingin menyaksikan dia bertobat sebelum aku mati”
Namun semakin lama si anak semakin larut dengan perbuatan jahatnya, sudah sangat sering ia keluar masuk penjara karena kejahatan yang dilakukannya

Suatu hari ia kembali mencuri di rumah penduduk desa, namun malang dia tertangkap
Kemudian dia dibawa ke hadapan raja utk diadili dan dijatuhi hukuman pancung. Pengumuman itu diumumkan ke seluruh desa, hukuman akan dilakukan keesokan hari di depan rakyat desa dan tepat pada saat lonceng berdentang menandakan pukul enam pagi

Berita hukuman itu sampai ke telinga si ibu dia menangis meratapi anak yang dikasihinya dan berdoa berlutut kepada Tuhan “Tuhan ampuni anak hamba, biarlah hamba yang sudah tua ini yang menanggung dosa nya”. Dengan tertatih tatih dia mendatangi raja dan memohon supaya anaknya dibebaskan. Tapi keputusan sudah bulat, anakknya harus menjalani hukuman.

Dengan hati hancur, ibu kembali ke rumah Tak hentinya dia berdoa supaya anaknya diampuni, dan akhirnya dia tertidur karena kelelahan
Keesokan harinya, ditempat yang sudah ditentukan, rakyat berbondong2 manyaksikan hukuman tersebut Sang algojo sudah siap dengan pancungnya dan anak sudah pasrah dengan nasibnya

Terbayang di matanya wajah ibunya yang sudah tua, dan tanpa terasa ia menangis menyesali perbuatannya Detik-detik yang dinantikan akhirnya tiba
Sampai waktu yang ditentukan tiba, lonceng belum juga berdentang sudah lewat lima menit dan suasana mulai berisik, akhirnya petugas yang bertugas membunyikan lonceng datang

Ia mengaku heran karena sudah sejak tadi dia menarik tali lonceng tapi suara dentangnya tidak ada. Saat mereka semua sedang bingung, tiba2 dari tali lonceng itu mengalir darah Darah itu berasal dari atas tempat di mana lonceng itu diikat.
Dengan jantung berdebar2 seluruh rakyat menantikan saat beberapa orang naik ke atas menyelidiki sumber darah.

Tahukah anda apa yang terjadi?

Ternyata di dalam lonceng ditemui tubuh si ibu tua dengan kepala hancur berlumuran darah. Dia memeluk bandul di dalam lonceng yang menyebabkan lonceng tidak berbunyi, dan sebagai gantinya, kepalanya yang terbentur di dinding lonceng demi menunda kematian anak tercintanya.

Seluruh orang yang menyaksikan kejadian itu tertunduk dan meneteskan air mata. Sementara si anak meraung raung memeluk tubuh ibunya yang sudah diturunkan.
Menyesali dirinya yang selalu menyusahkan ibunya .

Ternyata malam sebelumnya si ibu dengan susah payah memanjat ke atas dan mengikat dirinya di lonceng Memeluk besi dalam lonceng untuk menghindari hukuman pancung anaknya..---

-----------------------------------------------------------------------------------------------
BAGAIMANA PUN MARAHNYA IBU TERHADAP DIRIMU KARENA SESUATU HAL..…. YAKINLAH BAHWA DI DALAM HATINYA PASTI ADA SECUIL RASA KASIH SAYANG UNTUKMU……
Read more
 
i-Cinema 31 Copyright © 2010 Templatemo | Converted into Blogger Template by BloggerTheme